Senin

Konspirasi dan bisnis like di facebook

Buat yang sudah makan asam garam dunia online marketing mungkin sudah paham bahwa banyak yang menjalankan bisnis jual-beli like facebook, baik ngelike posting di timeline atau ngelike dan follows fan pages. Semakin tinggi jumlah like semakin tinggi juga harga jualnya.

Namun untuk mendapatkan like secara suka-rela dan wajar bukan pekerjaan mudah.Maka banyak yang menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan like, di antaranya dengan mempublikasikan hal-hal yang semenarik mungkin secara emosional, dari mulai foto-foto tak senonoh, info-info palsu, sampai hal-hal aneh, dan lalu setelah dapat like banyak tinggal meng-edit isinya, misal yang tadinya foto artis selingkuh setelah dapat like banyak tinggal di-edit isinya diganti dengan nama produk dagangan, atau diganti dengan produk apa saja sesuai pesanan pembeli like,... gampang kan...? cmiiwwwwiwwwwwww........

Model-model keterlaluan untuk mendapatkan like itu di antaranya:
  • Membuat profile-profile palsu menyamar sebagai publik figur, dari mulai artis, politisi, sampai tokoh-tokoh agama. Dengan profile-profile terkenal tersebut akan membuat orang-orang yang lugu atau yang baru kenal dunia internet akan terpikat dan mudah untuk memberikan like pada apapun yang diposting si pemilik akun palsu.
  • Membuat profile-profile palsu menyamar sebagai sosok cewek cantik atau orang alim, atau keduanya (cantik dan alim), dan kemudian dilanjutkan dengan aksi mempublikasikan konten-konten yang memberikan dampak emosional kuat buat yang melihat/membaca, mulai dari foto-foto bertema kekejaman, kenehan, kedurhakaan, sampai nuansa-nuansa keagamaan, yang memancing emosional sangat kuat, dan lalu dibumbuhi dengan kata-kata doktrin dan intimidasi "yang ngelike, yang komen aamiin semoga masuk surga", "yang nggak ngelike nggak komen akan sial", dan sejenisnya. Yang mana sebenarnya secara moral dan etika konten/foto tersebut tidak pantas dipertontonkan secara sembarangan apalagi yg mengandung unsur kekejaman, yang mana secara moral dan etika segala informasi mesti dijelaskan asal-usul sumbernya secara bertanggung-jawab, kalau cuma asal bicara anak balita pun bisa, kalau asal gambar/foto para photoshopper juga bisa. Memang bukan hal baru orang-orang memanfaatkan nilai-nilai keagamaan sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi, karena memang faktnya sebuah intimidasi mengatasnamakan agama akan membuat banyak orang tidak berdaya dan menurut seperti kerbau dicucuk hidungnya.
  •  Bukankah di dalam kitab suci kita banyak himbauan untuk berfikir?
  • Bukankah ayat pertama yang diturunkan adalah perintah membaca? (membaca bukan hanya diartikan mengartikan aksara semata, karena diriwayatkan Rasulullah SAW seorang yang buta huruf).
Waspada dan cerdaslah di dunia maya.... cmiiwwwww...salam blogger indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar